Demi Sang Saka Merah Putih dan Indonesia Raya
Bangsa Indonesia dengan sumber daya manusia yang potensial masih kalah dengan negara serumpun, khususnya di bidang sepak bola. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemajuan persepakbolaan suatu negara merupakan salah satu parameter kemajuan negara tersebut.
Berdasarkan situs resmi FIFA, kita bisa melihat berbagai data yang bisa membuat kita semakin heran kenapa tim nasional Indonesia saat ini terdampar di peringkat 132 dunia.
Kita pantas sedih karena Indonesia hanya berada di peringkat 4 dari 11 negara ASEAN. Timnas Indonesia berada di bawah Thailand, Singapura dan Vietnam. Timnas Indonesia hanya berperingkat lebih baik dibandingkan Malaysia.
Ranking FIFA terbaik yang pernah dicicipi Indonesia adalah periode September 2008. Saat itu tim Merah Putih menduduki peringkat 76 dunia dan peringkat 2 ASEAN setelah Thailand yang berada di peringkat 43 dunia. Saat itu, Singapura berada di peringkat 81 dunia dan Vietnam masih berada di peringkat 84 dunia. Setelah periode tersebut, ranking Indonesia mengalami pasang surut dan puncaknya adalah semakin melorotnya prestasi tim nasional kita sekarang.
Sejak FIFA meluncurkan sistem ranking untuk negara-negara anggotanya pada Agustus 1993, Indonesia telah empat kali mengungguli Thailand, yaitu periode Juli, Oktober, November dan Desember 2005, selebihnya Indonesia selalu berada di bawah tim Negeri Gajah Putih.
Jika dibandingkan dengan Singapura, maka Indonesia berbagi persentase dalam hal keunggulan peringkat. Timnas Indonesia dan Singapura saling mengungguli dan diungguli masing-masing sebanyak 90 kali. Jika dibandingkan dengan timnas Vietnam, Indonesia pantas berbangga karena mampu mengungguli Vietnam sebanyak 134 kali dan berada di bawah Vietnam sebanyak 46 kali.

Berdasarkan pengolahan data sampel 5 tahun terakhir, kita mendapatkan berbagai hasil yang kurang memuaskan. Data yang kita ambil adalah periode Juli 2005 – Juli 2009. Selama periode tersebut, FIFA telah melakukan pengumuman ranking dunia sebanyak 48 kali. Berdasarkan data tersebut, maka hasil yang kita dapatkan adalah sebagai berikut:
• Timnas Indonesia v Singapura 10 : 38
• Timnas Indonesia v Thailand 4 : 44
• Timnas Indonesia v Vietnam 25 : 23
Berdasarkan hasil di atas, ada sebuah pelonjakan peringkat yang dialami timnas Vietnam. Sejak memasuki tahun 2009, ranking Vietnam selalu berada di atas Indonesia. Hasil positif tersebut merupakan buah dari perjuangan keras Vietnam menjuarai Piala AFF 2009, disamping keterpurukan timnas Indonesia yang hanya mampu menjadi semifinalis saja.

Vietnam, gelar terbaik di sepak bola Asia Tenggara (foto: Affsuzukicup)
Jika kita melakukan analisis lebih lanjut dengan populasi yang lebih besar lagi, maka kita semakin mendapatkan gambaran nyata bahwa daya saing timnas Indonesia bisa dibilang sangat rendah. Pada level AFC, timnas Indonesia menduduki peringkat ke-20. Ranking FIFA sering dijadikan parameter utama bagi kekuatan timnas suatu negara.
Negara-negara yang aktif berpartisipasi pada even akbar Piala Dunia adalah yang memiliki ranking terbaik FIFA. Jarang terjadi keajaiban tim yang memiliki ranking rendah berhasil lolos Piala Dunia. Perkecualian di UEFA saat Piala Eropa 2008 yang tidak diikuti timnas Inggris yang notabene pada saat tersebut berada pada ranking 12 FIFA. Contoh lainnya adalah kesuksesan Latvia yang menembus putaran final Piala Eropa 2004 saat berada pada ranking 53 FIFA.
Jika berkaca pada keakuratan ranking FIFA, perjuangan timnas Indonesia untuk mencicipi Piala Dunia masih sangat berat. AFC mendapatkan jatah sebanyak empat tim yang langsung lolos dan ditambah satu tim yang harus melaksanakan play off dengan juara Oseania.
Butuh sebuah keajaiban bagi timnas Indonesia yang memimpikan tampil pada putaran final Piala Dunia dalam waktu dekat. Pernyataan ini bukan sebuah rasa pesimistis tetapi berdasarkan data-data yang ada.

Indonesia v Australia di babak kualifikasi Piala Asia 2011
Ayas sepakat dengan pernyataan pengurus PSSI yang selalu berpendapat timnas Indonesia selalu mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Jika boleh ayas menambahkan, kemajuan yang dicapai tim nasional Indonesia adalah sangat lamban.
Ibarat sebuah kendaraan, timnas Indonesia mengalami kemajuan dengan kecepatan 20 km/jam, pada sisi lain negara pesaing sudah stabil dengan kecepatan di atas 20 km/jam. Jika di negara-negara lain disibukkan dengan pengembangan teknik sepak bola modern dan pengembangan industrialisasi sepak bola, yang terjadi di Indonesia adalah inkonsistensi pengurus PSSI dalam mengaplikasikan setiap kebijakannya sehinggga hasil yang dicapai pun masih berada dalam area angan-angan dan khayalan.

Tabel Komparatif Indonesia – AFC per 1 Juli 2009
Melihat fenomena di atas, berbagai cara ditempuh PSSI untuk bisa tampil di Piala Dunia. Mulai dari usaha nyata dengan mempersiapkan tim nasional yang tangguh sampai mencari jalan pintas untuk memperebutkan tiket menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
PSSI sebagai lembaga sepak bola tertinggi di negeri ini, sering mengadakan proyek-proyek besar. Satu-satunya konsistensi yang dimiliki PSSI dari dulu sampai sekarang adalah pemikiran yang menyatakan bahwa pelatnas jangka panjang merupakan senjata utama yang digunakan untuk membentuk timnas yang tangguh.
Jika kita berkaca pada beberapa proyek pelatnas jangka panjang PSSI, maka dalam konsistensi pemikiran PSSI tersebut masih terdapat inkonsistensi dalam pelaksanaannya. Jangankan bicara hasil dari proyek tersebut, untuk pelaksanaannya saja masih sering terbengkalai karena satu dan lain hal.
Proyek pelatnas jangka panjang yang pernah diadakan PSSI antara lain:
1. Pada era Tony Pogacnik. Menjelang Asian Games 1962, dibentuk dua tim, Indonesia Banteng dan Indonesia Garuda, yang bermaterikan para pemain senior dan pemain muda.
2. Pada awal 1980-an, muncul terobosan dari Ketua Umum PSSI Ali Sadikin dengan mengirimkan timnas berlatih ke Brasil. Tim dikenal dengan nama Indonesia Binatama. Proyek ini sempat berjalan selama enam bulan. Akibat bermasalah dengan kualitas pelatih, proyek dihentikan.
3. Ide pengiriman tim berlatih ke luar negeri kembali tercetus pada era kepemimpinan Azwar Anas, pertengahan 1990-an. Demi cita-cita tampil di pentas dunia pada 2002, Indonesia mengirimkan tim untuk mengikuti kompetisi di Italia. Bedanya, kali ini tim yang dikirimkan adalah tim junior. Kelak tim tersebut dikenal dengan nama kompetisi U-19 yang mereka ikuti, Indonesia “Primavera”. Puluhan pemain diterbangkan ke Italia dan selama dua tahun membina ilmu di kota Tavarone, provinsi Genoa. Diantara kloter pertama Primavera terdapat nama Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, atau Yeyen Tumena. Namun, di tengah proses pembinaan di Tavarone itu, beberapa pemain ternyata tidak tahan dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia, termasuk mantan libero tim nasional Sugiantoro.
4. Proyek tersebut diulangi setahun kemudian dengan mengirimkan tim mengikuti kompetisi U-16, dan tentu saja dikenal masyarakat dengan nama Indonesia “Barretti”. Setali tiga uang dengan proyek Brasil, generasi Primavera dan Barretti gagal membuahkan prestasi yang gemilang.
5. Pada tahun 1991, trio pelatih Anatoly Polosin, Vladimir Urin, dan Danurwindo juga menerapkan sistem pelatnas jangka panjang berupa latihan fisik yang berat bagi para anggota skuad timnas. Pelatnas yang dilakukan selama beberapa bulan itu banyak diserang kritik, namun akhirnya semua bungkam saat medali emas dikalungkan ke leher kapten Ferril Raymond Hattu pada SEA Games Manila 1991.
6. Training camp di Belanda untuk timnas U-23 menjelang Asian Games 2006 yang mempunyai misi meraih prestasi di Asian Games 2006 juga merupakan proyek tanpa diimbangi dengan prestasi yang membanggakan.
7. Pada 25 Januari 2008, dikirim 25 pemain timnas Indonesia U-16 untuk mengikuti kompetisi taruna Quinta Division di Uruguay, yang lebih dikenal dengan tim SAD (Sociedad Anonima Deportiva) Indonesia. Proyek tersebut direncanakan berlangsung selama empat tahun. Di Uruguay, tim muda Indonesia akan dilatih Cesar Payovich Perez dan asisten Jorge Anon. Menurut penjelasan Nirwan Bakrie, berbeda dengan Primavera. Pengiriman tim U-16 ke Uruguay nyata-nyata dimaksudkan untuk perolehan materi pemain yang handal, yang nantinya bisa ‘dijual’ ke mancanegara. Nirwan berharap, dari puluhan pemain U-16 Indonesia yang dikompetisikan di Uruguay ini, paling tidak ada dua atau tiga pemain yang mampu bersaing dan merumput di klub-klub luar negeri. Proyek ini menelan dana Rp 12,5 miliar per tahun. Pada tahun pertama, SAD Indonesia mengikuti kompetisi mulai Maret hingga November 2008. Selama kompetisi tersebut, SAD Indonesia bertanding 23 kali, dengan rekor enam kemenangan dan sisanya kalah. Berkat hasil tersebut, tim masa depan Merah-Putih berada di posisi ke-19 klasemen akhir Quinta Division. (Goal dan PSSI Football)

Ponaryo Astaman, saat di timnas Indonesia Piala AFF 2008 (foto: Goal/Dhedhe)
Jika kita kalkulasi biaya yang terserap untuk proyek-proyek di atas, tentunya sangat besar. Besarnya biaya tersebut belum bisa diimbangi dengan prestasi yang berhasil dicapai oleh PSSI.
Berdasarkan teori investasi, jika cost yang kita korbankan tidak mampu diimbangi dengan return yang diterima, maka bisa disimpulkan proyek yang kita lakukan adalah sebuah kerugian. Sebagai negara berkembang, ayas merasa proyek tersebut merupakan sebuah bentuk pemborosan dan mulai hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan bangsa sendiri.
Tradisi pelatnas jangka panjang tersebut juga diadopsi oleh beberapa pelatih tim nasional Indonesia dalam menyiapkan kerangka tim nasional untuk berlaga di berbagai pertandingan international.
Menurut ayas, pelatnas jangka panjang dijadikan sebuah metode andalan pelatih tim nasional sebagai bentuk ketidakpercayaan akan kualitas kompetisi nasional dalam mengoptimalkan kemampuan pemain dalam negeri.
Kita semua sudah bosan mendengar pernyataan para pelatih timnas yang selalu menjadikan kompetisi nasional sebagai kambing hitam kegagalan tim Merah Putih meraih prestasi. Pelatih timnas, baik asing maupun lokal, selalu mengeluhkan minimnya jam terbang pemain.

Pablo Frances (Persijap Jepara), penyerang asing top skor Copa Indonesia
(foto: Jawapos)
Hal ini bisa kita maklumi sebab kompetisi nasional kita memang relatif dikuasai oleh pemain asing dalam hal konsistensi permainan. Pemain lokal sering menunjukkan permainan yang kurang konsisten sehingga sering dijadikan cadangan. Karenanya, peningkatan kualitas kompetisi nasional yang berkesinambungan adalah solusi paling efektif untuk bangkit dari keterpurukan ini.
Kompetisi sepak bola nasional musim 2009/2010 tetap terdiri atas lima divisi. Dua strata berstatus profesional yang dikelola oleh Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI). Tiga lainnya berstatus amatir yang dikendalikan oleh Badan Liga Sepak Bola Amatir (BLA).
Yang masuk level profesional adalah kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama. Untuk kompetisi amatir, ada Divisi I, Divisi II, dan Divisi III. Jumlah klub yang berlaga di Superliga sebanyak 18 klub, Divisi Utama sebanyak 36 klub, Divisi I sebanyak 66 klub, dan Divisi II sebanyak 100 klub. (Jawapos)
Jika kita melihat jumlah kontestan kompetisi nasional di berbagai level, maka kita akan membayangkan betapa semaraknya gelaran kompetisi nasional musim depan. Masyarakat Indonesia sudah membayangkan akan menikmati hiburan kompetisi nasional yang semakin meningkat kuantitas pesertanya.

Sepak bola Indonesia, peningkatan kuantitas (foto: Bolaindo/Supandito)
Tentunya kita semua berharap peningkatan kuantitas tersebut juga diimbangi dengan peningkatan kualitas kompetisi nasional sehingga mampu menempatkan kompetisi nasional menjadi salah satu kompetisi terbaik di kawasan Asia.
Menurut ayas, pengurus PSSI harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja yang telah dilaksanakan selama ini yang terbukti kurang ampuh dan segera menutupi semua celah-celah tersebut dengan perbaikan yang berkesinambungan.
Melalui tulisan ini, ayas menyampaikan beberapa solusi alternatif yang mungkin bisa diaplikasikan oleh pengurus PSSI demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia untuk memiliki tim nasional yang mampu berlaga di putaran final Piala Dunia. Alternatif solusi yang ayas tawarkan antara lain:
1. Good Corporate Governance PSSI
Corporate Governance adalah proses dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang bisa diterapkan oleh PSSI, antara lain:
a. Transparansi (transparency)
PSSI harus mampu menjamin pengungkapan informasi materil dan relevan mengenai kinerja, kondisi keuangan, dan informasi lainnya secara jelas, memadai, dan tepat waktu, serta mudah diakses oleh stakeholders sesuai dengan haknya. Prinsip keterbukaan ini tidak mengurangi kewajiban untuk melindungi informasi rahasia mengenai PSSI dan stakeholders sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Tentunya kita masih ingat kasus peringatan keras yang dikeluarkan oleh FIFA kepada PSSI terkait statuta PSSI.
b. Kemandirian (independency)
PSSI harus mampu menjamin pengelolaan organisasi secara profesional tanpa ada benturan kepentingan atau pengaruh dan tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan persebakbolaan yang dikeluarkan oleh FIFA yang berlaku dan prinsip-prinsip organisasi yang sehat. Jadi, diharapkan pengurus PSSI tidak merangkap sebagai pengurus klub-klub anggota sehingga benturan kepentingan dapat diminimalisir.
c. Akuntabilitas (accountability)
PSSI harus mampu menjamin kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban masing-masing badan kerja organisasi yang memungkinkan pengelolaan organisasi terlaksana secara efektif. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban seseorang atau badan kerja PSSI terkait pelaksanaan wewenang yang dimilikinya dan/atau pelaksanaan tanggungjawab yang dibebankan PSSI kepadanya.
d. Bertanggung jawab (responsibility)
PSSI harus mampu menjamin aktivitas yang dijalankan berdasarkan prinsip organisasi yang sehat, pemenuhan kewajiban terhadap pemerintah sesuai peraturan berlaku, bekerjasama secara aktif bagi manfaat bersama, serta berupaya berkontribusi nyata kepada masyarakat Indonesia. Sebaiknya PSSI segera memperbaiki hubungan dengan pihak-pihak terkait demi lancarnya pelaksanaan kompetisi nasional. Tentunya kita semua tidak ingin kasus sulitnya ijin keamanan akan terus menjadi penghambat keberlansungan kompetisi nasional.
e. Kewajaran (fairness)
PSSI harus mampu menjamin perlakuan yang adil dan setara dalam memenuhi hak-hak stakeholders berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, diharapkan PSSI tidak memiliki kepentingan terhadap klub-klub peserta.
Jika seluruh pengurus PSSI mampu menanamkan dalam setiap nuraninya masing-masing untuk menjalankan amanah bangsa Indonesia dengan sebaik-baiknya, ayas yakin inkonsistensi yang sudah menjadi tradisi kuat di kepengurusan PSSI bisa dihilangkan.
Selain itu, PSSI juga diharapkan mampu merubah berbagai sistem yang kurang baik di tubuh organisasinya sendiri guna memperbaiki citra organisasi di mata publik yang akhir-akhir ini semakin menurun.
2. Peningkatan kualitas pelatih lokal
Menurut staf ahli Menpora, Prof. Djohar Arifin Husein, Perbandingan jumlah pelatih dan pemain sepakbola di Indonesia masih sangat timpang yakni 1:400. Idealnya, seorang pelatih hanya menangani 24 – 30 pesepakbola, untuk meningkatkan kualitas sepakbola nasional. Karena itu PSSI diharapkan menambah jumlah pelatih. (Kemenpora)
Ayas sepakat dengan pendapat di atas. Kesenjangan di atas juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan keterpurukan prestasi sepak bola nasional. Ayas berharap PSSI tidak hanya meningkatkan kuantitas pelatih lokal, tetapi juga harus diimbangi dengan kualitas.
Menurut pandangan ayas, pengiriman pelatih lokal untuk menimba ilmu ke negara-negara yang memiliki kualitas persepakbolaan yang lebih maju adalah sebuah solusi yang lebih efektif daripada pengiriman para pemain junior.
Alasanya adalah seorang pelatih sudah mempunyai dasar pengetahuan mengenai sepak bola dan memiliki usia yang cukup matang jadi ketika memperoleh ilmu baru, pelatih lebih mampu menyerap dan mengembangkannya berdasarkan kreativitas masing-masing. Ketika sudah kembali ke dalam negeri, pelatih tersebut mampu mengamalkan ilmunya pada klub yang ditanganinya.

Raja Isa, pelatih asing yang sempat menangani klub Liga Super Indonesia
(foto: Djarum Super)
Jika kita asumsikan sebuah klub dihuni oleh 25 pemain, maka seorang pelatih mampu memberikan ilmu yang lebih efektif dengan perbandingan 1:25. Apalagi jika kompetisi nasional juga dihuni oleh pemain asing yang memiliki kualitas yang baik dan pelatih tersebut mampu mengoptimalkan penyaluran ilmu kepada para pemain lokal dengan efektif, maka hasil yang dicapai pun akan lebih maksimal.
Efisiensi biaya juga merupakan faktor yang harus diperhitungkan. Ayas berpendapat jika PSSI mengirim beberapa pelatih lokal, maka tidak membutuhkan waktu selama empat tahun untuk menyerap ilmu kepelatihan sepak bola modern sehingga PSSI mampu menghemat anggaran untuk dialokasikan ke sektor yang lain.
Selain itu, akhir-akhir ini klub besar Eropa mulai melakukan investasi dengan mendirikan sekolah sepak bola di dalam negeri. Contohnya adalah SSI Arsenal yang didukung oleh para pelatih berkualitas. Mantan pemain Liverpool, Kenny Latham, menyatakan keinginannya membuka Akademi Sepak Bola Bali untuk menjaring dan mengembangkan potensi bersepakbola bagi para anak-anak dan remaja Bali.
3. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana
Minimnya stadion berkualitas yang dimiliki Indonesia juga turut menghambat proses peningkatan kualitas sepak bola nasional. Menurut penilaian ayas, konsep dari pelatnas jangka panjang ke luar negeri adalah pemusatan latihan dengan sarana pendukung yang berkualitas dan penyerapan ilmu sepak bola modern.
Jika ilmu sepak bola modern sudah dikuasai oleh para pelatih lokal dan didukung oleh pemusatan latihan yang berkualitas, maka kita bisa mengurangi aliran dana ke luar negeri dengan signifikan.
Keuntungan lain yang diperoleh dari kepemilikan sarana dan prasarana yang berkualitas adalah Indonesia diharapkan sering diberi kepercayaan untuk menggelar event-event international sehingga mampu menciptakan aliran dana masuk ke dalam negeri dan mampu mendorong kemajuan sektor kehidupan yang lain.
Nilai tambah yang lain adalah Indonesia dikenal memiliki suporter yang antusias sehingga semakin mempermudah PSSI dalam membangun industri sepak bola dalam negeri dan medapatkan kepercayaan dari AFC maupun FIFA.
4. Peningkatan kualitas pemimpin pertandingan
Sudah menjadi rahasia umum bahwa wasit yang memimpin pertandingan kompetisi nasional bisa dikategorikan kurang profesional. Seseorang bisa disebut profesional jika memiliki keahlian yang memadai dalam melaksanakan tugasnya dan mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Jimmy Napitupulu, salah satu wasit papan atas nasional yang berlisensi FIFA
(foto: Ongisnade/Adi Kusumajaya)
Kita sering disuguhi dengan keputusan-keputusan wasit yang cukup menggelikan. Terdapat beberapa opini yang menyebutkan bahwa wasit yang memimpin suatu pertandingan sudah dibeli, mendapat teror, sudah dipesan untuk memenangkan sebuah klub, atau alasan-alasan lainnya yang menyebabkan seorang wasit bertindak tidak profesional.
Menurut ayas, ilmu perwasitan beda dengan ilmu kepelatihan atau ilmu bermain bola. Ilmu perwasitan mampu kita pelajari dari berbagai sumber karena ilmu tersebut berlaku umum dan akan selalu relevan untuk diaplikasikan dalam pertandingan kompetisi manapun dan pada level apapun.
5. Peningkatan kesinambungan kompetisi nasional
PSSI diharapkan mampu menjaga keberlangsungan semua kompetisi nasional berjalan dengan baik. Penyusunan jadwal yang tepat dan konsisten juga akan memberikan nilai positif terhadap keberlangsungan kompetisi Nasional.
Selain itu, PSSI juga diharapkan mengurangi inkonsistensi dalam pembuatan format kompetisi nasional sehingga setiap klub mampu menciptakan iklim persaingan yang sehat dalam mencapi tujuan masing-masing. Ketidakpastian jadwal yang sudah mengakar di tubuh PSSI harus segera dihilangkan. Banyak pemain asing yang sering mengeluhkan kelambanan PSSI dalam membuat jadwal sehingga sebagian dari mereka memilih berkarir di negara lain yang lebih memberikan kepastian terhadap kemajuan karir pemain tersebut.
Pendapat yang ayas kemukakan di atas adalah sebuah solusi alternatif yang semuanya bermuara pada perbaikan kualitas kompetisi nasional demi tercapainya cita-cita semua masyarakat Indonesia untuk memiliki tim nasional yang mampu berlaga pada even tertinggi, Piala Dunia.

Timnas Merah Putih, harapan publik sepak bola nasional (foto: Affsuzukicup)
Masyarakat Indonesia tentunya ingin merasakan kembali aura saat lagu kebangsaan Indonesia Raya karangan Wage Rudolf Supratman dikumandangkan untuk pertama kalinya pada malam acara penutupan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dan detik-detik dikibarkannya Sang Saka Merah Putih pada hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.
Aura kedua momentum bersejarah yang mampu menggetarkan hati setiap masyarakat Indonesia tersebut dapat kembali dirasakan oleh masyarakat Indonesia ketika timnas Indonesia mampu berlaga di putaran final Piala Dunia. Harapan itu akan selalu ada dan masyarakat Indonesia akan selalu sabar menunggu sampai momen tersebut bisa terwujud. Salam satu jiwa, Arema!
—
Dikirim oleh Ayas Aremania. Artikel ini merupakan opini pribadi dan tidak mencerminkan pendapat redaksi. Anda bisa mengirim artikel untuk ditampilkan di Ongisnade.net melalui email redaksi@ongisnade.net



























absent ae ker…
salam satu jiwa..
jayalah arema…
Wah no utas ayas iki
Bener iku bro..
Wah no utas ayas iki
Bener iku bro..
Pkoke seng penting ndang golek pelatih..
Ayo management ndang tangi jok turu ae tah..
Tangi..Tangi..Tangi ndang golek pelatih n pemain..
Kecenk n benny jok sampek metu yow..
Golek pelatih seng wes weruh karaktere Arema
Andalkan pemain muda berbakat ok..
eh mlebu toch!? Harapan Timnas Indonesia!? Emh…Bukanx nggak poenya jiwa patriotisme unt saat ini Mendink mikirin Arema az kalle ye…Semoga Mnjmen Arema bisa belajar dr kesalahan bukan bljar mengulangi kesalahan Sperti Yg dlakukan Pssi beserta antek2x yg….alah basi bgt! S1j
Wah…jenk sri mlebu shift bengi koyok’e…hehehe
wat “ayas (nawak’e aremania_ultras)…” => tambah sip æ tulisane…cap cuuusss… ^_^
Ampek bingung ate komen upu…speechless…!
Btw, artikel ini shrs_e d kirim wat PSSI…wkwkwk
arema…aremania…merdeka !
-lam1jw-
Lanjutkan :)
MANTAB Böz !!! semua itu selalu bermuara pada satu kata yg bernama “NASIONALISME”.
Pertanyaannya apakah rasa tersebut masih ada dalam relung hati seluruh warga negara Indonesia tercinta ini ??
hanya kita sendiri yg tahu.
- $ 1 JiwØ -
.pesimis ayas!
artikel yg bagus…..nice thinking.
Lebih baik sekarang PSSI fokus pada pembinaan pemain muda saja. Soalnya trend anak muda sekarang mulai banyak yang bercita2 ingin jadi pemain bola profesional.
PSSI dan pemerintah sebaiknya menyadari dan menanggapi animo anak2 bangsa ini….
@buat sam Andik saluttt 2 jempol.se7 se_x…kita harus berjuang dan berdoa buat Arema dan Indonesia tercinta.
@mas Andik sllu memberi ayas inspirasi bagaimana menulis artikel yg bermutu dan hebat banget pokok e…tp ayas kok blm bisa ya,bisanya nulis artikel sepele dan bahkan agak pribadi gak bermutu,,,maluuuu…tp tetap maju…malu tp mau haha….(mau nulis artikel lg).
@Mbak Ocha bisa-bisa aja. Justru ayas yang banyak belajar dari Mbak Ocha tentang bagaimana menjadi seorang Aremania. S 1 J
pohon padi semakin berkwalitas bijinya semakin nunduk pohonya itulah sampean sam @Ayas Aremania.s1j terus berkreasi memberi inspirasi…
DOSAnya TimNas adalah jarang pake pemainnya AREMA :-)
Mental timnas selalu jatuh kalau di pertandingan sebenarnya, Timnas hanya bagus di pertanbdingan-pertandingan uji coba.
berjayalah arema jgn pernah putus asa,dan pudar sprt lagux Rossa
Salut gw ama yang bikin niih postingan… Memang seharusnya PSSI kita harus di benahi seperti yang di atas.. Keren bgt ni postingan.. Seandainya, PSSI baca niih postingan mungkin mereka bisa memperbaiki diri mereka masing2.. KEREN GAN…
Cendolnya dong gan.. hehehheee
Thanks..
Ejakeren
timnas indonesia harus melirik tema&e.prasetya untuk menjadi kiper timnas bravo bonek viking tetap satu hati
kekalahan-kekalahan timnas karena tidak pernah pake pemain persebaya
maunya timnas merekrut dan menaturalisasi christian gonzales menjadi wni dan memanggilnya ke timnas indonesia aku yakin indonesia bisa masuk piala dunia 2014
banyak berdoa, berlatih, dan terus berjuang timnas pasti akan berjaaya ok bravo psm makassar