Ongisnade News Ticker

Darjoto: Arema Butuh Manajer

Dewan Pembina Yayasan PS Arema, Darjoto Setiawan, memandang masalah yang terjadi di internal Arema dikarenakan mis komunikasi dan ketidakjelasan manajer tim yang profesional dan memiliki kemampuan manajerial.

Darjoto SetyawanDalam pesan Facebook-nya, Darjoto mengatakan, “Pengurus atau Manajemen PT Arema Indonesia, harus segera menunjuk MANAGER TEAM AREMA yg profesional dan memiliki kemampuan Manajerial. Manajer juga sebagai penghubung antara Pengurus Arema dgn Team Arema (pelatih,pemain dan official lain). Sampai hari ini tidak jelas sebenarnya siapa Manager Team Arema. Salam Satu Jiwa.”

Berikut salinan wawancara lengkap Darjoto Setiawan dengan Ra Indrata dari Malang Post.

Sudah mendengar kabar Arema?
Ya, meski saya tidak terlalu aktif lagi, tapi saya selalu memantau perkembangan Arema. Apalagi saya ini, secara de jure, masih Dewan Pembina Yayasan, meski secara de facto, sudah tidak lagi. Karena saya sudah bilang mundur, tapi secara legalitas formal, masih belum dilakukan. Karena itu, saya ikut prihatin.

Anda bisa memprediksi, kenapa gonjang-ganjing ini sampai terjadi?
Dalam kacamata saya, masalah ini muncul karena tidak ada jembatan antara pemain dan manajemen atau direksi. Yang bisa menjadi jembatan itu, adalah manajer. Nah, Arema sekarang tidak punya manajer. Seperti saat SBW (Satrija Budi Wibawa) atau Ekoyono masih pegang tim ini.

Bukankah Arema sudah punya Rendra Kresna dan Rudy Susamto, di posisi manajer dan asisten manajer?
Benar. Tapi karena kesibukan Pak Rendra, rasanya berdosa kalau kita mengharapkan terlalu banyak dari beliau. Padahal, fungsi manajer benar-benar sangat penting. Dia harus bisa menjadi saluran komunikasi dari pemain ke manajemen, atau sebaliknya. Jika saluran itu buntu, atau bahkan putus, akibatnya seperti ini. Terjadi miskomunikasi yang memunculkan tudingan-tudingan miring. Manajer harus bisa all out untuk tim. Dia harus selalu ada jika dibutuhkan. Bisa diajak bicara. Saya pikir, kalau keluhan pemain dan pelatih bisa disalurkan lewat manajer, saya yakin tidak ada muncul gonjang-ganjing itu. Posisi inilah yang dibutuhkan Arema saat ini. Arema harus bisa mencari orang-orang seperti SBW.

Lantas peranan Direktur dan Yayasan?
Harus dibedakan, tugas masing-masing. Kita istilahkan sebagai sebuah mobil. Yayasan itu pemilik mobil, kemudian Direktur yang bertugas mencarikan bensin dan manajer itu sopirnya. Penumpangnya, pemain dan pelatih. Direktur harus mengupayakan agar mobil itu terus jalan. Yayasan, hanya boleh mengawasi, tapi tidak boleh campur tangan didalam operasional. Biarkan Direktur dan jajarannya yang bekerja. Kalau bahasa hukum, yayasan itu pemegang saham, direktur itu yang operasional. Jadi jangan dibebani Direktur itu harus ngurusi tim atau yayasan ngurusi pelatih. Apalagi Arema adalah sebuah tim yang harus mencari uang sendiri dan menghidupi diri sendiri. Untuk pekerjaan yang itu saja (mencari uang, Red.) sudah susah.

Lantas siapa yang pantas jadi manajer?
Siapapun orangnya, asal dia secara total bisa menjadi jembatan dan saluran komunikasi. Bisa menjadi penghubung. Boleh orang profesional, atau justru dari Aremania. Ingat saat kemarin (saat Arema masih dipegang Bentoel), SBW dan Ekoyono, selalu bersama-sama tim, kapanpun dan dimanapun juga. Ada apa-apa, tim langsung berhubungan dengan SBW dan Ekoyono. Keduanya juga yang mengkomunikasikan dengan manajemen. Nah, sekarang harus dicari SBW-SBW baru.

Bukankah ketersediaan dana juga dari salah satu penyebab kondisi sekarang?
Saya pikir, itu bukan faktor utama. Mari berhitung yang sederhana. Bentoel memberikan Rp 7,5 miliar. Kita sudah kucurkan Rp 4,5 miliar. Setiap tanggal 5 dibulan Januari hingga Maret nanti, kami akan kucurkan Rp 1 miliar. Kemudian hitung pendapatan dari home event. Berapa hasil tiket dari pertandingan biasa dan bigmatch. Lantas ditambah sponsor-sponsor lain. Ingat, Bentoel sama sekali tidak meminta hak sponsor. Biar semua bisa dijual oleh PT Arema Indonesia.

Apa itu cukup?
Dari tiga sumber pemasukan dana itu, dana dari Bentoel, pemasukan tiket dan sponsor, harusnya PT Arema bisa menyelesaikan kewajiban sampai akhir kompetisi. Saya pikir, konsep organisasi persepakbolaan itulah yang ingin dikembangkan PSSI untuk menuju sepak bola profesional. Jadi PT Arema Indonesia jadi pengelola, yayasan sebagai pemegang saham dan panpel adalah bagian dari PT Arema Indonesia. Sehingga panpel harus bertanggungjawab pada PT Arema Indonesia. Tapi ingat, semua itu harus dibuat secara transparan, terbuka dan tidak boleh ada penyelewengan. Panpel juga harus kuat dan profesional. Panpel juga merupakan bagian dari PT Arema Indonesia.

Lantas wujud transparan dan keterbukaan itu?
Paling bagus, manajemen, direksi PT serta jajarannya termasuk panpel, harus membuat budget bulanan maupun tahunan yang disetujui oleh yayasan. Kalau sudah disetujui, manajemen melaksanakan operasional, nanti yayasan yang memonitor dan mengaudit. Nah, karena yayasan itu milik masyarakat, apalagi Arema milik orang Malang, memang lebih bagus kalau yayasan membuat public statement mengenai pertanggungjawaban keuangan tersebut. Public statement itu juga bisa menghindari tudingan miring. Seperti, uangnya kemana, dipakai apa? Kenapa sampai belum dibayar dan sebagainya. Dengan begitu, semua orang bisa mengetahui. Karena bagaimanapun juga, Arema ini sudah menjadi kebanggaan semua orang. Tapi itu kalau yayasan mau. Kalau tidak mau, juga tidak ada kewajiban untuk menyampaikan ke masyarakat.

Berarti permintaan transparasi itu masih wajar?
Ya, karena itu tadi. Sekarang ini justru muncul hal yang bagus. Ketika semua orang merasa memiliki Arema. Kalau dulu, Arema itu milik Bentoel, jadi apa-apa terserah Bentoel. Nah, dengan mundurnya Bentoel, saat ini yayasan betul-betul menjadi milik publik. Kan sekarang tidak ada lagi yang punya Arema. Arema benar-benar milik publik. Untuk itu, sebagai pejabat publik, yayasan harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik. Karena kalau tidak, publik bisa menghukum para pejabatnya.

Jika begitu, bagaimana anda memandang kondisi yang terjadi saat ini?
Sebenarnya saya saat ini sangat bangga. Karena sudah muncul kesadaran bahwa Arema menjadi milik publik. Milik orang Malang. Dengan begitu, nantinya saya yakin akan muncul orang-orang yang mau duduk di yayasan maupun PT Arema dari publik itu sendiri. Merekalah nantinya yang bisa menghidupi dan membesarkan Arema, sebagai milik bersama, aset bersama yang harus dijaga dan dilestarikan. Saya yakin, arek-arek Malang mampu mewujudkan semua itu. (*)
Foto: Facebook Darjoto Setyawan
Sumber: Malang Post


Tampilkan berita ini di Facebook  Tampilkan berita ini di Twitter

Komentar anda


Komentar harus sesuai topik dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak menghapus komentar bila dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bernuansa SARA. Komentar anda juga dibaca dan menjadi masukan bagi pemain, pelatih, manajemen Arema Indonesia, dan PT Liga Indonesia. Tampilkan foto anda dengan Gravatar.


Ongisnade Store: End Season Sale