Tragedi 16 Januari 2008 di Stadion Brawijaya tampaknya masih membekas bagi warga Kediri. Karena trauma insiden hampir dua tahun silam tersebut, pertandingan Persik vs Arema (20/1) hampir pasti tidak digelar di Kediri.

Masih membekas: Insiden kerusuhan di Stadion Brawijaya Kediri dua tahun silam.
(foto: Ongisnade/Zul)
Tidak bisa digelarnya laga Persik vs Arema tersebut karena aparat keamanan setempat diak memberi izin pertandingan digelar di Kediri.
“Kami mendapatkan konfirmasi dari aparat keamanan bahwa pertandingan tersebut tidak mendapatkan izin digelar di Kediri,” kata Ketua Panpel Persik, Bambang Sumarjono, yang mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu surat resmi dari Polresta Kediri.
“Sejauh ini baru konfirmasi lisan. Kami masih menunggu surat resminya. Tapi, sudah pasti begitu (tidak digelar di Kediri),”
Bambang Sumarjono membenarkan tidak keluarnya izin pertandingan tersebut memang terkait dengan kerusuhan yang terjadi dua tahun lalu. “Semua tak ingin kerusuhan itu terulang. Jadi, lebih baik pertandingan memang dipindah, tidak di Kediri,”
“Semua tidak ingin kerusuhan itu terulang. Jadi lebih baik pertandingan memang dipindah dan tidak di Kediri,”
- Bambang Sumarjono, ketua Panpel Persik
“Banyak aspirasi dari warga melalui surat kepada polisi maupun panpel agar pertandingan Persik-Arema tidak digelar di Kediri,”
Sementara itu pihak Arema mengaku sudah mendengar kabar itu dan menunggu keputusan dari PT Liga Indonesia (PT LI) menyangkut larangan tersebut.
“Kami sudah mendengar kabar itu. Arema berharap Liga segera memutuskannya dan tempat pertandingan tidak jauh dari Malang, setidaknya jarak tempuhnya sama halnya Malang – Kediri. Hal ini menyangkut persiapan,” terang Soedarmaji, Media Officer PT Arema Indonesia.
Musim lalu, duel Persik kontra Arema juga sudah tidak digelar di Stadion Brawijaya, namun di Gelora Delta Sidoarjo. Meski main di tempat netral, Persik tetap mempertahankan rekor tak pernah kalah dari Arema dengan meraih kemenangan 2-1. (onn/jpn/mps)


























