Tim pelatih dan manajemen Arema Indonesia telah menjelaskan masalah terkait kiper Markus Haris Maulana yang sempat berkembang di media.

Kiper Arema Indonesia, Markus Haris Maulana. (foto: Ongisnade/Adi Kusumajaya)
Permasalahan mulai timbul ketika tim pelatih merekomendasikan Markus diperiksa ke psikiater karena dianggap depresi. Langkah medis ini sudah lazim di luar negeri, namun tidak bagi orang Indonesia, termasuk Markus.
“Dari diagnosa psikiater, dia harus diberi pengobatan 10 hari, pada masa itu kita awasi dan nanti direkomendasikan kapan bisa bergabung,” kata Robert seperti diterjemahkan sekretaris tim, M. Taufan. yang dilansir dari Malang Post.
Keinginan mundur Markus dikarenakan dirinya tidak dimainkan saat menghadapi PSM Makassar, meski sebelumnya telah setuju untuk dicadangkan.
“Tidak ada seorang pun yang lebih besar di tim. Tim adalah nomor satu, tim itu prioritas,” — Robert Alberts, pelatih Arema Indonesia
Robert menegaskan, keutuhan tim Arema merupakan nomor satu dan prioritas bagi setiap pemain, “Kalau dia merasa besar dan penting di tim, itu salah. Tidak ada seorang pun yang lebih besar di tim. Tim adalah nomor satu, tim itu prioritas,”
Markus sendiri saat dikonfirmasi ketika berada di Medan menganggap Robert sebagai panutan meski sempat kaget dengan pernyataan pelatihnya itu. Markus berharap tidak ada provokator dan mengaku hanya bisa pasrah dengan kebijakan pelatih.
“Anda tahu sendiri kalau diperiksakan ke psikiater itu anggapannya apa. Saya ini tidak depresi. Robert itu baik, saya takutnya ada provokator,” kata kiper timnas itu. (mps/onn)




























