Salah satu aspek paling ditunggu peningkatan kualitasnya pada perhelatan Superliga mendatang adalah wasit, termasuk pula dalam hal ini adalah asisten wasit dan pengawas pertandingan. Chief Executive FA Inggris, Brian Barwick dalam kampanye “Respect Referee” menegaskan, “Referees do a very difficult job professionally and objectively under often very difficult  circumstances. They deserve respect from everyone in the game.”

Tugas wasit pada level sepakbola apapun dan di kompetisi manapun sangat berat dan sulit. Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah wasit kita profesional? Apakah wasit kita obyektif? Terakhir, sudahkah pemain, pelatih, hingga kita (suporter) menghargai wasit?

Salah seorang kolumnis sepakbola detikcom yang tinggal di London menuliskan tentang kondisi perwasitan di kompetisi semewah Premiership, berikut cuplikannya :

Sungguh sengsara jadi wasit sepakbola. Sudah rasa hormat tidak ada, masih jadi sasaran makian pula. Hampir di setiap pertandingan, penonton, pemain, dan manajer sepertinya silih berganti mencerca.

Gaji mereka juga tidak seberapa. Apa yang didapat para pemain dalam satu minggu, sama dengan penghasilan setahun wasit. Di tingkat amatir lebih mengenaskan lagi. Di Inggris, tingkat makiannya masih sama, bayaran yang didapat paling 200 poundsterling atau sekitar Rp 3,6 juta per pertandingan. Tak jauh di atas upah minimum Inggris yang £5,52 (hampir Rp 100 ribu) per jam.

Di tingkat grassroot, sungguh memalukan. Karena sifatnya lebih untuk hobi dan kegiatan sosial kemasyarakatan, kecuali uang pengganti transport, tidak ada gaji sama sekali. Tetapi makian dan cercaan tetap saja sama.

Pada kompetisi junior di bawah 7 tahun wilayah sub London Tenggara orang tua anak-anak yang sering tidak bisa menahan diri. Kalau mereka tidak puas dengan kepemimpinan wasit, sumpah serapah dengan menyebut nama semua binatang yang ada di kolong langit keluar tanpa henti. Bahkan kadang makian tidak lagi verbal tetapi juga ancaman fisik.

Pada awalnya anak-anak yang bermain tidak tahu menahu dan tidak mengerti. Yang penting bagi mereka hanyalah bermain dan bergembira. Tetapi begitu mereka bermain untuk di bawah umur 11 tahun anak-anak ini sudah tidak kalah pandainya untuk mengeluarkan sumpah serapah pada wasit dan memprotes.

Namanya juga anak-anak, seperti spons mereka menyerap apa yang ada di sekitarnya. Apalagi mereka ini menonton tingkah laku para pemain profesional di televisi yang ringan mengeluarkan makian. Belum lagi kalau mereka menonton pertandingan langsung di stadion, tak ada penonton yang bermulut sopan.

Anak-anak ini yang satu dua pasti akan kemudian menjadi pemain profesional, bisa Anda bayangkan perangainya ketika sudah menjadi pemain sepakbola sesungguhnya. Kalau kecil-kecil saja terhadap otoritas tertinggi di lapangan mereka tidak menghormati, begitu besar memaki dan menghina wasit akan menjadi naluri mereka. Padahal di situ ia berprofesi.

Pemain Leeds United, Andy Johnson, dikartu merah wasitTak mengherankan kalau belakangan semakin sedikit bibit wasit muncul. Asosiasi sepakbola Inggris sangat prihatin dengan banyaknya calon wasit yang mundur karena tak kuat mendapat cercaan, makian, dan hinaan yang seperti tak ada habisnya di setiap pertandingan.

Mereka mengerti bahwa wasit mungkin elemen paling tidak glamor dalam permainan sepakbola. Tetapi pada saat yang bersamaan wasut adalah salah satu elemen yang paling penting. Tanpa wasit tidak akan ada sepakbola. Tanpa wasit sepakbola akan mati.

FA kini menggelar rencana senilai 200 juta poundsterling berjangka waktu lima tahun. Mereka berencana memperbaiki budaya bersepakbola sebelum segalanya terlambat. Tidak sekadar berkonsentrasi pada perbaikan pelatihan, keterampilan, dan perekruitan wasit. FA ingin program mereka bisa mengubah tindak-tanduk pemain, penonton, dan manajer untuk mempunyai rasa hormat dan kepatuhan kepada wasit.

FA berkaca pada apa yang terjadi di lapangan olahraga rugby, olahraga tradisional Inggris yang menyebar ke rata-rata negara persemakmuran maupun tetangga dekat Inggris. Olahraga ini keras dan kasar. Sederhananya dalam olahraga ini untuk mencegah lawan maju mencetak nilai, yang tidak diperbolehkan hanyalah memukul dan menjegal menggunakan kaki, yang lain diperbolehkan. Mau menubruk, menabrak, menggeleparkan lawan dengan mengangkatnya kalau memang cukup tenaga, semua diperbolehkan. Tak ada pemain yang menggunakan pelindung kecuali penyumpal mulut seperti tinju, untuk menghindari lidah tergigit. Olahraga biadab kata orang.

Tetapi dalam kebiadaban ini ada kepatuhan yang mengagumkan terhadap wasit. Hanya kapten tim yang boleh memprotes wasit, apapun keputusan wasit. Protes itupun lebih bersifat meminta klarifikasi akan keputusan wasit itu. Tidak boleh ada makian, tidak boleh ada sumpah serapah. Jawaban standar terhadap keputusan wasit adalah “Yes, Sir.”

Dalam rugby, mungkin karena semuanya hampir serba boleh, ada kesadaran bahwa mereka memerlukan wasit untuk memberikan keteraturan. Juga ada kesadaran bahwa wasit hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan. Kalaupun wasit salah, tim yang dirugikan akan secara gentleman menerimanya. Toh suatu saat mereka juga kadang diuntungkan oleh kesalahan wasit.

Sikap seperti inilah yang sangat ingin ditiru oleh sepakbola di Inggris (dan seharusnya di Indonesia). Ada satu ungkapan di Inggris ini yang sangat tidak disukai oleh publik sepakbola Inggris tetapi mereka sendiri mengakui bila membandingkan rugby dan sepakbola : rugby adalah permainan biadab yang dimainkan oleh orang beradab, sepakbola adalah permainan beradab tetapi dimainkan oleh orang biadab.

Kembali ke Indonesia, ajang Superliga yang bakal digelar sekitar tiga bulan lagi seharusnya menjadi ajang titik balik peningkatan kualitas wasit Indonesia. Kalau BLI meminta klub-klub memenuhi standar Manual K dari AFC, akankah BWSI sebagai badan perwasitan nasional melakukan hal yang sama? Yaitu peningkatan kualitas wasit yang profesional dan berstandar AFC.

Salah satu pertandingan sepakbola Liga Indonesia

Seringkali terjadi kerusuhan yang terjadi di arena Liga Indonesia dipicu oleh keputusan - keputusan wasit yang kontroversial. Terlepas dari sisi manusiawi wasit, faktor subyektifitas pemain & suporter, serta cara pandang & kedewasaan kita bersepakbola, wasit tetap memegang peranan vital dalam sebuah permainan sepakbola.

Terdengar klise memang menjadikan wasit sebagai kambing hitam. Namun tidak ada pembenaran apabila wasit sampai teraniaya, baik verbal maupun fisik. Untuk itulah sudah sepantasnya BLI dan BWSI mengikuti jejak FA yang mengkampanyekan program “Respect Referee”, menghormati sang pengadil.

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan skill dan SDM wasit itu sendiri. Pemahaman aturan-aturan baru dalam sepakbola modern, etika wasit, hingga segala hal tentang perwasitan. Tentunya hal ini adalah wewenang BWSI.

Di akhir kolomnya pada website resmi FA, Brian Barwick menulis :

“We are not looking to take the passion out the game. However, it is not acceptable for referees to be subject to abusive and confrontational behaviour. Player and managers have a responsbility towards the game to conduct themselves properly. It’s about getting the balance right. Without a referee, there is no game.”

Kompetisi BLA (Badan Liga Amatir) Divisi 3 dan 2 regional yang telah berlangsung menjadi gambaran nyata bagaimana sistem perwasitan kita saat ini. Celakanya, masih banyak kekerasan dan anarkisme yang mewarnai Liga Indonesia pada kasta bawah tersebut.

Kejadian terakhir adalah tawuran antar pemain saat Persekap Kota Pasuruan vs PSID Jombang dalam lanjutan kompetisi Divisi III Regional Jatim di Stadion Untung Suropati, Kota Pasuruan (Minggu 6/4/08).

Fakta lain adalah saat Piala Asia tahun lalu, dimana kita menjadi salah satu tuan rumah, namun tak satu pun wasit maupun asisten wasit dari Indonesia dipercaya menjadi pengadil di ajang sepakbola paling bergengsi di Asia tersebut. Sebuah gambaran konkrit kondisi perwasitan nasional yang perlu segera dibenahi secara serius, baik oleh BWSI maupun oleh seluruh insan sepakbola Indonesia.

Sambil menunggu kompetisi Superliga bergulir, mengikuti perkembangan kasus di tubuh PSSI, serta persiapan tim Arema (latihan, seleksi pemain, atau ujicoba), tidak ada salahnya kita refleksikan kembali persepakbolaan Indonesia, karena sepakbola inilah yang kita miliki bersama, yang selalu kita agungkan saat membentangkan syal dan dengan lantang menyanyikan lagu “Padamu Negeri”. (zoel)

*) sumber foto : leedsunited.com & kutaikartanegara.com


Berita Terkait



20 komentar

  1. rey AremaniA Pandaan
    07 Apr 08
    7:42 pm

    Lha iki Pemain Indonesia iku yo akeh seng Salah

    Macak kereng

    Anehnya saat pemain indonesia maen di liga sndiri

    Kalo wasit mngganjarnya pasti pemain kita tuh marah2 slalu g trima dgn keputusan wasit…

    coba kalo maen di liga Asia kena sempritt dikit wes mlongo nrima aja

    apa seh bedannya wasit indo ma wasit luar

    secara wasit indonesia juga kurang tegas
    Tanya Ken apa… :(

  2. jasik kalah …. nomer 2 rek, sek tak moco

    ————————————–
    http://aremania.aforumfree.com

  3. pancen, seperti buah simalakampes, mau gini salah, mau gitu salah …. seharusnya biar wasit2 di endonesa dadi joosss gandos, PSSI (lek wes waras) yo mengeluarkan daftar hitam wasit, kosom mek daftar hitam pemain tok, walaupun hal iki PSSI gak duwe wewenang penuh, tapi setidak-tidaknya bisa bisa merubah kinerja wasit sing kurang mbois dadi mbois …. walah ngomongku belepotan …wes tak turu ae wes …

  4. kid arema
    07 Apr 08
    9:53 pm

    gmn kompetisi sama timnas bisa bagus kalau wasit masih banyak yang kaya bangke…??!

  5. 65134
    07 Apr 08
    10:11 pm

    Kita butuh wasit berkualitas, tp jg perlu pemain yg sadar akan keberadaan wasit. Artinya menghargai keputusan wasit dan jangan cuma bisa protes dan marah2.
    Klw dah gitu permainan pasti enak ditonton.
    Lak ngono ta rek….?

  6. ultras malang
    07 Apr 08
    11:21 pm

    memang harus kita akui seorang wasit seharusnya seorang yang harus kita hormati…wasit ibarat dua sisi mata keping uang logam…yang setiap saat berganti muka secara cepat dan gampang….sayang nya selama ini di negara kita, seorang wasit masih banyak yang perlu di benahi….bagaimana orang bisa memberi hormat kalo wasitnya belum berubah??????

  7. bonek_suroboyo
    08 Apr 08
    12:50 am

    setuju dengan 65134

  8. idub
    08 Apr 08
    4:50 am

    Emang lek nggolek’i sing salah sopo, koyok nggoleki dhisik endi endok karo pithik’e….

    Taon wingi diakui opo ora Pelita Jaya dengan pelatihe Fandi Ahmad dadi pioner team sing mengharamkan dan menghukum pemaine sing protes nang wasit. hasile, Pelita dadi team fairplay. Dan aku setuju dengan penilaian iki.

    Taon ini, pelatih banur juga berencana menerapkan hal yang sama. Sing entuk protes mek kapiten, liyane gak oleh. sing mbanggel akan dihukum disiplin. Aku sangat utujes dan ndukung sewu persen langkahi bboss Banur. Taon wingi maine AREMA mulai kacau lek pemain wis mulai protes wasit…..

    Lha saiki AREMANIA…kudu dadi pioner untuk jadi suporter sing mulai mengharamkan juga untuk protes dan menghujat wasit. Kejadian Kediri cukup jadi pelajaran berharga untuk introspeksi diri. Utujes ora Ker…?! kudu utujes iki…hehehehe.

    Cekno ae wasite yok opo, iku urusane BWSI, BLI karo PSSI. Sing ndelok dan nilai wasit okeh kok, gak usah khawatir. Lek masalah BWSI, BLI karo PSSI-ne sing bobrok… weeessss mboh maneh. Sing penting ayo dadi klub karo suporter sing profesional. Sing ngerti tugas dan kewajiban serta hak….

    Love AREMA dan AREMANITA… (AREMANIA emoh…odop nganale….hehehehe)

  9. NolaB
    08 Apr 08
    7:56 am

    gawe sam Admin…
    ayas kok kurang sreg lek disebut sebagai SANG PENGADIL..
    sebut wae SANG PEMIMPIN PERTANDINGAN
    ketoke lek ngunu luwih syipp deh sam…
    oyiii….
    pengadil = lek tim a oleh pinalti, tim b yo kudu oleh cek adil
    pemimpin = neutral

  10. SAMYNOJD
    08 Apr 08
    8:33 am

    Iki artikel sangat bagus &obyektif.Cuma gimana caranya bisa kita implementasikan di lapangan khususnya suporter.
    Nggak usahlah ke orang lain, ke diri kita sendiri aja dulu.DAN INI ADALAH TUGAS KITA!!!
    Ayas berkhayal,suatu ketika kita bisa nonton sepak bola di Kanjuruhan serasa di Wembley Stadium.smoga ini bukan sekedar mimpi.
    SALAM SATU JIWA…AREMA!!!!!

  11. kucluk
    08 Apr 08
    10:51 am

    wasit juga manusia, setuju kalo kita lebih menghargai wasit. tetapi di liga indonesia mafia wasit menurut feelingku pasti ada (tetapi susah membuktikannya), tetapi dengan pengadil yang objektif aku pikir menang kalah biasa. tetapi mafia wasit harus diwaspadai.

  12. donny
    08 Apr 08
    11:21 am

    kadang sulit untuk menerapkan hormat pada wasit di indonesia , karena wasit di indonesia kurang memahami aturan pengadilan . tapi saya setuju jika di mulai dari kita ( arema & Aremania ) kita belajar respek dan hormat pada wasit di super liga nanti. klo bukan kita sapa lagi yang mau memulai ?…. cuman kita dorong siapa pun ketua pssi nanti nya untuk mulai meyekolah kan wasit - wasit kita ke luar negeri supaya ada transfer ilmu. doa saya mari kita arema - aremania memberi contok buat semua suporter dan klub di indonesia u/ hormat pd wasit….. kita ini pembuat sejarah dan pioner …..sesuatu yang baik …

  13. hari lazuardi aivataB
    08 Apr 08
    12:21 pm

    kabare jajat sudrajat yok opo ker…
    jangan sampai wasit seperti itu dan sejenisnya merumput di indonesia ayahab bagi persepekbolaan tanah air
    bagaimana nih hukuman terhadap jajat, kok tampaknya melenggang kangkung sedangkan aremania terkena hukuman

  14. donny
    08 Apr 08
    2:41 pm

    @ hari lazuardi .. paling - paling Bpk.. Jajat Sudrajat lagi mijitin Nurdin Halid ahhahahaaa…

  15. Ardhy @ johnsas
    08 Apr 08
    3:48 pm

    Setuju sam IDUB,sing penting mulai soko AREMA,AREMANIA,AREMANITA dhewe……
    saranku pemain - e, pelatih kudu ngerti peraturan main Bal - balan dhisik dadi protese gak ngawur….
    Lek suporter wis terbukti,selama wasit e ga njarak koyo’ 8 besar,AREMANIA & AREMANITA ga akan beringas…
    Oyi - oyi ker????
    SALAM SATU JIWA A R E M A

  16. kabar pualing terakhir dari JAJAT SUBEDJAT adalah …. dinonaktifkan sebagai wasit dilapangan hijau Indonesia (mboh lek lapangan e wes ganti batik / kembang2) untuk waktu yang belum ditentukan

    ==========================
    http://aremania.aforumfree.com

  17. sing Oeedan
    08 Apr 08
    6:06 pm

    Nomer Pitulas Rekkk…
    usul-e kipa2… utujes…mek diunggut ae buktine…
    Jajad…jarene…jek kursus…ate nyoba dadi wasit boksen

  18. Ongisnade
    08 Apr 08
    10:25 pm

    @ rey AremaniA Pandaan :
    waduh Sam, lek pemaine macak kereng kabeh ngko suporter dadi wedi xaxaxa :)
    untuk masalah wasit lokal / asia, mgkn lebih ke faktor psikologis pemain, pemain merasa sungkan dengan wasit asing, sementara dengan wasit lokal, pemain sudah terbiiasa anarkis… sebuah peringai yg wajib dirubah..

    @ Aremania Jepang :
    memang sedang kita tunggu bersama sam black-list wasit liga indonesia (tapi ojo black list wasit sing kadit kampesan) :)

    @ kid arema :
    perlu pembinaan dan peningkatan skill / SDM wasit

    @ 65134 :
    oyi, berarti kan harus saling respect… gitu loch :)

    @ ultras malang :
    wasit memang harus mempunyai mata uang logam, untuk mengundi bola/gawang sebelum kick off :)
    tapi memang bener, kalo wasit-nya nggenah, pasti pemain akan respevt

    @ idub :
    Pelita Jaya musim lalu memang menjadi contoh yang baik, selain Persipura
    Arema perlu mencontoh fair play pemain terhadap wasit
    untuk BWSI, ditunggu hasil nyata kursus perwasita nasional beberap awaktu yg lalu

    @ NolaB :
    wasit sbg sang pengadil memang dituntu untuk adil, sama belum tentu adil
    lek tim a oleh penalti terus tim b oleh pinalti pisan, bisa adil bisa pula tidak adil, tergantung kondisinya
    wasit memang dituntut untuk bersikap adil, netral, dan objektif

    @ SAMYNOJD :
    nuwus sam… semoga khayalan umak segera terlaksana mulai musim ini

    @ kucluk :
    memang, mafia wasit tetap bisa kita rasakan hingga saat skrg ini, kasat mata tapi nyata… benarkah? hehehe… kita tunggu saja superliga nanti

    @ donny :
    transfer ilmu hukumnya wajib bagi wasit sepakbola di indonesia, karena sepakbola itu aturannya global, tidak ada beda nya di semua negara, baik itu aturan offside, pasif offside, advantage, profesional foul, penalti, dll… di liga inggris dan di liga indonesia (seharusnya) sama…

    @ hari :
    wes dijawab oleh sam Aremania Jepang

    @ Ardhy @ sing Oeedan :
    dalam program RESPECT REFEREE yg berhak memprotes wasit adalah kapten tim, itupun tidak diperbolehkan dengan kata2 hinaan/kotor dan fisik. Kita masih sering melihat di liga indonesia wasit dikeroyok oleh hampir seluruh pemain, sebuah pemandangan yang memprihatinkan. Kalau pemai tidak bisa memberi contoh bagaimana menghormati wasit, suporter tentu akan terimbas efeknya. Semoga dengan wacana ini bisa memberi gambaran/pencerahan kepada nawak2 Aremania demi perbaikan ke depan. Nuwus… SAlam Satu Jiwa

  19. Ongis_East Batavia
    09 Apr 08
    9:49 am

    Baguslah klo memang PSSI/insan sepakbola di negeri ini punya niat ke arah peningkatan skill dan SDM wasit. Mudaha2n terlahirlah wasit2 yang objektif u/memimpin pertandingan di Liga Super nanti……..(Insya Alloh). Eksesnya mudah2n pemain2 yang disebut profesional itu bisa & mau menghormati keputusan wasit. Tapi sekali lagi mudah2n itu bisa terjadi klo memang dari organisasinya bisa mencontohkan hal-hal yang baik&benar. Benar nawak2….
    S 1 J from Aivatab……..

  20. AYAS UTUJESKALO KITA HARUS MENGHORMATI KEPUTUSAN KEPUTUSAN WASIT, TAPI KALO PARA WASIT GARIS MAUPUN TENGAH UDAH DI TUNGGANGI OLEH DUIT UNTUK MENDISKRIMINASI KLUB TERTENTU AYAS RASA MEREKA JUGA PERLU DI BINA (DIBINASAKAN) SALAM SATU JIWA